Rabu, 8 September 2010

Login Form






Kata Sandi hilang?
Belum terdaftar? Daftar

Webmaster

webmaster: santany, email:santany32@gmail.com, phone: 021-92 7575 89, 021-93088359

Pengunjung

Hari Ini16
Kemarin72
Minggu Ini196
Bulan Ini636
Total67234

(C) Fliesenstadt
"SITUS INI DALAM TAHAP PENGEMBANGAN"
Home
WIRAUSAHA: Lulusan PT Hanya Jadi Pencari Kerja PDF Cetak E-mail
Thursday, 21 January 2010

www.flickr.comJAKARTA, KOMPAS – Sistem pendidikan nasional yang tidak selaras atau sinkron dengan dunia kerja menyebabkan banyaknya lulusan sekolah menengah atas dan perguruan tinggi yang menjadi penganggur terbuka. Masalah pengangguran tidak akan pernah selesai apabila lulusan terdidik hanya menjadi pegawai, karyawan, atau buruh di suatu perusahaan.

 

Demikian dikemukakan Deputi Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional Bidang SDM dan Kebudayaan Bappenas Nina Sardjunani dalam seminar Daya Tawar Pemuda dalam Dunia Kerja: Menghubungkan Pendidikan, Ketenagakerjaan, dan Kewirausahaan, Rabu (20/1) di Jakarta.

 

Berdasarkan hasil survei angkatan kerja nasional atau Sakernas 2009, mayoritas lulusan perguruan tinggi (74 persen) dan lulusan SMA (64 persen) menjadi pegawai, karyawan, atau buruh. Hasil ini menunjukkan lulusan terdidik—terutama lulusan perguruan tinggi—rela menganggur hanya untuk menunggu kesempatan menjadi pegawai atau karyawan apa pun, tidak mau mencoba terjun ke dunia usaha.

 

Pendiri Universitas Ciputra Entrepreneurship Center (UCEC), Ciputra, mengatakan, jika ingin mempercepat pertumbuhan ekonomi, idealnya Indonesia membutuhkan setidaknya 4,4 juta pengusaha. Untuk mencapai jumlah ideal itu, dari jumlah sekarang sekitar 400.000 pengusaha, kuncinya ada pada dunia pendidikan, terutama kalangan pendidik (guru atau dosen).

 

Menurut Ciputra, sistem pendidikan Indonesia saat ini tidak sinkron dengan dunia kerja karena sekolah hanya mencetak para pencari kerja, bukan lulusan yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan.

 

Secara terpisah, Mira Kusumarini, Ashoka Indonesia Representative, mengatakan, pendidikan kita belum mampu membawa ke arah berkembangnya budaya kebebasan berpikir dan berkreasi dalam diri tiap anak. ”Anak-anak yang berpikir berbeda justru diprotes dan tidak didukung oleh guru, teman-teman, orangtua, serta masyarakat,” ujar Mira Kusumarini, seusai acara Ashoka Young Changemakers Award 2009 atau pembaru muda kepada 20 anak muda berusia 10-25 tahun di Jakarta, Rabu (20/1). (LUK/ELN)

 

(Sumber : KOMPAS, 21 Januari 2010)

Komentar (0) >>
Tulis Komentar Anda
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
busy
Pemutakhiran Terakhir ( Thursday, 21 January 2010 )
 
< Sebelumnya   Berikutnya >